Popular Science News

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 28 Juni 2010

Pertumbuhan dan Mortalitas Abalon (Haliotis varia) di Perairan Pesisir Desa Bulo dan Desa Mokupa Kabupaten Minahasa



ABSTRAK
Novri F. Tondatuon. 000 513 106. “Pertumbuhan dan Mortalitas Abalon (Haliotis varia) di Perairan Pesisir Desa Bulo dan Desa Mokupa Kabupaten Minahasa”. Dibimbing oleh Ir. Medy Ompi, M.Sc,Ph.D. dan Prof. Dr. Ir. G. J. Fontje Kaligis, M.Sc.

Abalon memiliki nilai pasar yang cukup tinggi, daging abalon dapat dimakan mentah, dimasak, dikeringkan atau diasinkan. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Australia dan Cina, daging abalon digemari sebagai makanan kaleng. Pemanfaatan biota ini di Indonesia baru berkisar pada pemanfaatan cangkang sebagai bahan baku untuk pembuatan perhiasan, cenderamata dan kancing baju serta pemanfaatan oleh penduduk lokal sebagai bahan makanan di beberapa kawasan pesisir Sulawesi Utara, namun pemanfaatan tersebut menimbulkan menurunnya populasi abalon.

Menurunnya populasi abalon, mendorong dilakukan penelitian pertumbuhan dan mortalitas di rataan terumbu karang Desa Bulo dan Mokupa Kabupaten Minahasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substrat dan lokasi yang berbeda terhadap mortalitas, pertumbuhan panjang cangkang dan pertumbuhan berat tubuh abalon (Haliotis varia). Untuk tujuan ini, abalon telah diambil dari substratnya kemudian dibersihkan, diukur panjang cangkang dan berat tubuh kemudian ditempatkan pada substrat yang sama pada saat diambil yaitu di batu atau karang mati. Adapula abalon yang telah diberikan perlakuan kemudian ditempatkan pada substrat batu atau karang mati yang tidak ditempati oleh abalon sebelumnya. Ada tiga replikasi untuk masing-masing jenis substrat dan pada masing-masing replikasi ditempatkan tiga individu abalon. Semua perlakuan ini ditempatkan di masing-masing rataan terumbu di Desa Bulo dan Desa Mokupa selama tiga bulan penelitian yaitu bulan September 2009 sampai Desember 2009. Data yang diperoleh dianalisa mortalitas yaitu persentase mortalitas dalam % dan untuk pertumbuhan adalah perubahan ukuran baik panjang dan berat selama waktu penelitian.
Hasil yang diperoleh untuk mortalitas secara umum ditemukan lebih tinggi pada substrat batu yang ditempati abalon sebelumnya (A) dan substrat karang mati yang ditempati abalon sebelumnya (B) dibandingkan pada substrat batu yang tidak ditempati abalon sebelumnya (C) dan karang mati yang tidak ditempati abalon sebelumnya (D). Persentase mortalitas rataan terumbu lokasi Bulo substrat (A) 11%, substrat (B) 22%, substrat (C) 22% dan substrat (D) 11%. Persentase mortalitas rataan terumbu lokasi Mokupa substrat (A) 22%, substrat (B) 11%, substrat (C) 11% sedangkan pada substrat (D) tidak mengalami mortalitas
Data pertambahan panjang cangkang abalon Haliotis varia telah dianalisa dengan menggunakan Uji ANOVA dua arah, hasil menunjukkan bahwa pertambahan panjang tidak dipengaruhi oleh lokasi (P>0,05, ANOVA Dua Arah), sebaliknya pertambahan panjang abalon dipengaruhi oleh substrat (P<0,05, ANOVA Dua Arah). Data pertumbuhan berat abalone juga telah di analisa dengan menggunakan ANOVA Dua Arah, di mana lokasi dan substrat adalah sebagai faktor utama. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pertambahan panjang tidak dipengaruhi oleh lokasi (P>0,05, ANOVA Dua Arah), tetapi pertambahan berat dipengaruhi oleh substrat (P<0,05, ANOVA Dua Arah). Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dan pertumbuhan didiskusikan pada pembahasan.

SKRIPSI PENELITIAN
NOVRY TONDATUON
MARINE BIOLOGY SAM RATULANGI UNIVERSITY
e-mail : novrytondatuon@gmail.com

Tidak ada komentar:

BBC

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini

NYTimes

Press Europ